Teori Difusi Inovasi

Teori difusi inovasi menyatakan bahwa suatu inovasi (misalnya gagasan, teknik baru, teknologi baru, dan lain-lain) memencar atau menyebar dalam pola yang dapat diperkirakan. Rogers mengemukakan lima kategori yang digunakan dalam berbagai riset difusi inovasi yakni adalah (a) inovator; (b) penerima awal; (c) mayoritas awal; (d) mayoritas terlambat; dan (e) kelompok tertinggal.

Proses difusi dan adopsi menunjukkan bahwa saluran komunikasi publik atau komunikasi melalui media massa biasanya mampu menyebarkan kesadaran atau pengetahuan mengenai suatu inovasi secara jauh lebih cepat daripada saluran interpersonal.

Kebanyakan teori komunikasi yang telah kita bahas memiliki kecenderungan untuk “menormalkan” berbagai institusi dan struktur yang terbentuk dalam interaksi sosial. Teori kritis muncul untuk melawan kecenderungan ini, dan karenanya disebut dengan “kritis”.

Teori kebudayaan kritis yang lebih maju memiliki sejumlah konsepsi yang berbeda mengenai hubungan antara media dan kebudayaan. Teori kritis memiliki karakteristik sebagai berikut.

– Teori-teori itu cenderung bersifat meluas (macroscopic), yaitu menguji efek-efek media secara luas dan bersifat budaya.
– Teori kebudayaan kritis diakui secara terbuka memiliki motif-motif politik yang didasarkan atas ajaran neo-marxis, orientasi ajaran ini berdasarkan politik aliran kiri.
– Tujuan penganut teori ini adalah untuk mendorong perubahan dalam hal kebijakan pemerintah atas media, dan pada akhirnya mendorong perubahan pada media dan sistem kebudayaan.
– Teori kebudayaan kritis menyelidiki dan menjelaskan bagaimana kelompok elit menggunakan media massa untuk mempertahankan kekuasaan dan posisi istimewa mereka.

Studi kultural menekankan pada gagasan bahwa media menjaga kelompok yang berkuasa untuk tetap memegang kontrol atas masyarakat, sementara mereka yang kurang berkuasa menerima apa saja yang disisakan kepada mereka oleh kelompok yang berkuasa.

Menurut Karl Marx, pesan yang disampaikan media massa sejak awal dibuat dan disampaikan kepada khalayak audien dengan satu tujuan, yaitu membela kepentingan paham kapitalisme.

Menurut Graham Murdock (1989), setiap kelompok masyarakat secara terus-menerus terlibat dalam penciptaan sistem makna dan mewujudkan makna tersebut dalam bentuk-bentuk ekspresif, dalam bentuk kegiatan sosial dan dalam bentuk lembaga-lembaga. Namun, Murdock juga menyatakan bahwa berbagai komunitas budaya yang beragam akan menghasilkan pertarungan atau perang budaya (culture wars) terhadap makna. Interpretasi, identitas, dan kontrol atas masyarakat. Dengan kata lain, perang budaya merupakan pertarungan dalam menentukan makna, identitas dan pengaruh.

Berbagai norma, ide, nilai, dan bentuk-bentuk pemahaman dalam masyarakat yang membantu mereka menginterpretasikan realitas merupakan bagian dari ideologi suatu budaya.

Hegemoni merupakan salah satu konsep penting dalam teori studi kultural, dan sebagian besar teori ini bersandar pada pemahaman kita terhadap istilah ‘hegemoni’. Hegemoni dapat didefinisikan sebagai pengaruh, kekuasaan, atau dominasi kelompok sosial tertentu atas kelompok sosial lainnya, yang biasanya lebih lemah.

Pembahasan semiotika mencakup mengenai bagaimana tanda mewakili objek, ide, situasi, keadaan, perasaan, dan sebagainya yang berada di luar diri. Konsep dasar yang menyatukan tradisi semiotika ini adalah ‘tanda’ yang diartikan sebagai suatu stimulus yang mengacu pada sesuatu bukan dirinya sendiri.

Menurut Jean Baudrillard, media massa telah menjadikan jarak semakin jauh antara simbol dan realitas atau dunia pengalaman yang sebenarnya. Dengan kata lain, terdapat jarak yang semakin lebar antara tanda dan objek yang diwakilinya dan media berperan besar dalam mendorong proses pemisahan ini ke suatu titik dimana tidak ada lagi yang nyata.

Michel Foucault adalah salah satu tokoh poststrukturalis terkemuka. Ia berpendapat bahwa setiap zaman memiliki cara pandang (struktur konseptual) yang berbeda terhadap dunia, dan cara pandang ini akan menentukan sifat pengetahuan pada zaman yang bersangkutan.

Daftar Pustaka : “Teori Komunikasi Massa”.

Morissan, M.A., Dr. Andy Corry Wardhani, M.Si., Dr.Farid Hamid U, M.Si.

Posted on July 25, 2012, in Komunikasi Massa and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: